Menyaksikan Turnamen Sumo di Jepang

Ari Suarcani | Wisata Asia
23 Mar 2011

Semua orang pasti mengenal sumo. Sebuah olahraga Jepang yang identik dengan dua orang peserta berbadan luar biasa subur, hampir bertelanjang dan bergulat di atas ring layaknya permainan tinju. Itulah sumo, sebuah ciri khas budaya Jepang yang tidak ada duanya. Ciri khas ini menjadikan sumo sebagai salah satu wisata menarik di Jepang dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penyuka olahraga.

Bagi dunia modern, sumo merupakan olahraga. Namun bagi budaya Jepang, sumo merupakan sebuah tradisi dan ritual. Sumo merupakan bagian dari sejarah agama Shinto, yaitu agama asli Jepang. Shinto sendiri berarti jalan para dewa dan sumo pada awalnya dilakukan untuk menghibur para dewa selama festival Matsuri. Sebelum abad ketujuh belas, sumo hanya menjadi bagian tradisi budaya Jepang, yang hanya diperagakan pada hari-hari tertentu. Namun seiring berjalannya waktu, sumo Jepang mulai beradaftasi mengikuti sekeliling hingga kita lihat seperti sekarang ini.

Penyelanggaraan turnamen sumo penuh dengan simbolisasi yang dibentuk berdasarkan agama Shinto. Misalnya pada saat memulai, ada pasir yang dipakai untuk menutupi tanah liat Dohyo. Ini merupakan simbol kemurnian dalam agama Shinto. Selain itu, setiap peserta turnamen sumo mengenakan kanopi di atas yakata yang dibuat menyerupai atap kuil Shinto. Keempat jubai pada setiap sudut kanopi yang dipakai peserta turnamen sumo Jepang mewakili empat musim. Kemudian wasit dalam turnamen sumo Jepang yang disebut Gyoji menyerupai seorang imam Shinto dalam jubah tradisionalnya.

Berbagai kelengkapan ini masih digunakan sampai sekarang, walaupun tujuan turnamen sumo sudah bukan untuk urusan agama lagi. Sumo Jepang sudah dijadikan salah satu cabang olahraga di negara asalnya. Hal ini ditunjukan dengan adanya berbagai macam turnamen sumo yang digelar di negara tersebut. Ada enam turnamen besar yang diselenggaraan setiap tahun yang disebut dengan Hon-basho. Turnamen sumo dilaksanakan pada bulan dan tempat tertentu. Turnamen bulan Januari dilakukan di Tokyo, begitupula turnamen bulan Mei serta September. Osaka menjadi tuan rumah turnamen pada bulan Maret, Nagoya pada bulan Juli dan bulan November sekaligus turnamen terakhir dilaksanakan di Fukuoka.

Pelaksanaan enam kali turnamen ini disebabkan oleh popularitas sumo yang mulai berkembang pada abad 20.
Pelaksanaan turnamen ini menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Pada waktu-waktu mendekati turnamen, kota-kota yang menjadi tempat pelaksanaan akan ramai dikunjungi wisatawan. Menyaksikan pertandingan sumo langsung dari daerah asalnya sudah tentu menjadi keistimewaan tersendiri, sehingga banyak orang sayang untuk melewatkannya.

Namun seiring dengan perkembangan pariwisata, banyak pelaku pariwisata Jepang yang membuat turnamen sendiri diluar turnamen nasional. Ada beberapa studio yang mempertontonkan aksi para pegulat sumo, salah satunya adalah Kokukigan Sumo Stadio and Museum. Studio ini juga disebut dengan Ryōgoku Kokugikan yang merupakan arena olahrga sumo terbesar di Tokyo. Pelaksanaan turnamen tidak resmi itu sudah tentu diatur oleh sebuah event organizer, salah satunya adalah Phantom Shadow Entertainment.

Tags: ,

Leave a Reply